story
Benarkah Menatap Layar Laptop Berjam-Jam Dapat Menyebabkan Kebutaan?
Silih Agung Wasesa
Melalui teknologi digital, gennerasi millennial tumbuh kreatif, berinovasi dan membangun perekonomian indonesia, Melalui teknologi digital, gennerasi millennial tumbuh kreatif, berinovasi dan membangun perekonomian indonesia;
Benarkah Menatap Layar Laptop Berjam-Jam Dapat Menyebabkan Kebutaan?

Intensitas menatap layar laptop Andina kini telah berkurang. Hal tersebut kontras sekali saat ia masih bekerja full-time di sebuah social news site bersegmen anak muda tiga bulan lalu. Ia bisa menghabiskan waktu  sampai 12 jam lebih di depan laptop. “Dari pagi sampai sore, terus malem lanjut lagi biasanya sampe dinihari,” kata Andina.

Selain kerja, Andina juga sambil melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi negeri Yogyakarta. Tak heran jika banyak waktu harus ia habiskan di depan laptop untuk bekerja plus mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

“Dulu waktu kecil, pas terlalu dekat nonton TV, pasti kena marah ibu. Katanya, ‘Mundur atau kamu bisa buta!’. Eh sekarang taunya berjam-jam bisa aku habisin di depan layar laptop. Dan oke-oke aja,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Andin.

Sebagai seorang anak, cerita tentang omelan orangtua agar tida menonton TV dari jarak dekat mungkin juga kita alami waktu masa kecil. Tapi sekarang, selaras dengan cerita Andin, mungkin kebanyakan dari kita selalu menghabiskan waktu di depan ‘layar bercahaya’ dari jarak yang pasti tidak disetujui ibu.

Pertanyaannya yang mungkin lahir adalah, apakah waktu berjam-jam yang kita habiskan dapat berpengaruh pada penglihatan? Apakah pendekatan fear appeal dari ibu benar, dan bukan pepesan kosong seperti nasihat: “Jangan keluar habis maghrib, nanti diculik wewe gombel?”.

Sebuah penelitian yang diterbitkan Scientific American bisa membuatmu mulai berpikir harus mengontrol kebiasaan menatap layar laptop, computer, atau gadget dengan layar bercahaya secara terus-menerus. Penelitian ini mungkin akan menunjukkan, cerewetnya ibumu ketika kita menonton TV terlalu dekat mungkin ada benarnya.

Dengan kondisi yang terus memandang layar, mata kita berpotensi mengalami eye strain (mata lelah). Lelah mungkin terlihat tidak begitu menyeramkan. Yang menyeramkan justru temuan yang menyebutkan eye strain dapat meningkatkan risiko glaukoma.

Glaukoma merupakan salah satu jenis gangguan penglihatan yang ditandai kerusakan pada saraf optik yang biasanya diakibatkan oleh adanya tekanan di dalam mata. Jika kamu pernah melihat bayangan lingkaran di sekeliling cahaya, atau penglihatan yang makin menyempit hingga pada akhirnya tidak dapat melihat obyek sama sekali, maka glaukoma sedang kamu jangkit dan butuh pemeriksaan segera.

Bagi kita yang kurang memperhatikan keajaiban dari salah satu panca indera kita, kita mungkin tidak akan ngeuh dengan sistem visual atau penglihatan yang sangat kompleks dan sangat adaptif. Sistem dapat berubah fokus untuk melihat benda-benda, baik yang ada di dekat maupun yang jauh. Selain itu, sistem visual juga dapat berubah ketika melihat kondisi terang atau gelap lingkungan.

Ketika mata kita dipaksa berjam-jam memandangi layar, maka kondisi yang tertangkap sistem visual hanya minim variasi. “Mata kita itu paling ‘bahagia’ ditugasi menikmati jarak fokus yang variatif, dengan berbagai sumber cahaya sejajar yang benar. Penggunaan komputer atau laptop jelas tidak menyediakan hal-hal itu,” kata Dr. Jeffrey Anshel, O.D., pengarang buku Visual Ergonomics in the Workplace.

Tegangnya mata, atas penggunaan laptop atau komputer ternyata ada beberapa penyebabnya. Pertama, otot mata yang dipaksa bekerja terus-terusan. Ketika menatap layar, dua set otot mata akan bekerja bersamaan agar fokus kita terhadap obyek dapa terlihat jelas. Seperti halnya otot tubuh, penggunaan mata yang terus-menerus tentu dapat menciptakan suasana lelah. Jika tidak percaya, pernah punya pengalaman penglihatan kamu menjadi kabur saat memalingkan pandangan dari layar? Hal itu terjadi lantaran terjadi kejang otot-otot siliaris. Fokus kita yang tadinya terkunci pada layar laptop atau komputer, kemudian kehilangan jarak pandang secara sementara.

Kedua, pernahkah kamu merasakan gatal pada mata setelah menjalani sesi panjang di depan layar laptop atau komputer? Rasa gatal tersebut menimbulkan keinginan untuk mengucek mata. Rasa gatal pada mata disebabkan mata kering akibat jarang mengedip.

Intensitas berkedip yang normal adalah 12-15 kali per menit. Namun ketika menggunakan computer, mata memiliki kecenderung berkedip lebih jarang. Paling parah sekitar 4-5 kedip per menit. Mengapa intensitas berkedip mata bisa jarang ketika menatap layar? Mata biasanya “melompat-lompat” di layar tergantung pada objek apa yang kita lihat. Pola tersebut disebut dengan saccade. Sedangkan ketika terlalu sering berkedip, hal itu malah mengganggu pola dan menurunkan produktivitas karena turunnya konsentrasi.

Alasan lain yang dapat menyebabkan mata mengalami eye strain akibat terlalu lama menatap laptop atau komputer adalah pengaturan cahaya pada layar. Aturlah sebaik mungkin dan pastikan cahayanya tidak membuat mata kamu sampai merasa tertekan oleh brightness-nya. “Sederhana, anggap saja kamu melihat bola lampu selama berjam-jam. Layar LCD gadget-mu hampir semuanya diterangi lampu yang kasar di matamu sejak awal kamu mengoperasikannya,” tutur Dr. Anshel.

Kebutaan?

Lantas bagaimana dengan ancaman dari ibu masing-masing tentang kebutaan? Menurut Dr. Anshel, kerusakan pada mata akibat terlalu lama menatap layar LCD bisa direduksi dengan beberapa tips. Mata, kata Dr. Anshel, sebenarnya yang paling utama adalah mengalami kelelahan sehingga memengaruhi penglihatan normal. Tentu sebuah kabar baik bagi kita.

Namun untuk menghindari kerusakan penglihatan normal lainnya. Perlu usaha yang ekstra. Mengapa ekstra? Karena mengenyahkan rasa malasnya itulah yang sulit. Menurut Dr. Anshel, ada beberapa langkah yang dapat menjaga mata kita setidaknya terhindar dari kerusakan mata. Kamu dapat menata ulang meja kerja atau tinggi layar, sudut pandang, dan pencahayaan.

Sarannya yang lain adalah usahakan menjaga jarak pandangan. Jarak idealnya 7-10 inci. Kemudian, Dr. Anshel juga berkata, Manfaatkan jeda selama hari kerja. Minimal setiap 10 menit kamu bisa sesingkat 10 atau 20 detik mengistirahatkan mata. Agar mata rileks, kamu setidaknya harus melihat objek setidaknya sejauh 20 kaki.

Jadi, Andina atau siapa pun kamu yang memiliki cerita di masa kecil kerap mendapat nasihat akan risiko kebutaan dari orangtua akibat nonton TV terlalu dekat, kamu tak perlu kuatir lagi. Asalkan kamu mengikuti saran yang dianjurkan Dr. Anshel, kamu setidaknya bisa selangkah lebih aman dari mereka yang tidak konsen sama sekali pada kesehatan matanya tersebut.

another topic.