story
Agar Tak Dibajak
Silih Agung Wasesa
Agar Tak Dibajak

Agar Tak Dibajak, Ini 6 Langkah Konkret “Mengikat” Millennial Potensial di Perusahaan Anda

Bagi Anda pegiat bisnis, tatkala mendengar kata millennial, dalam benak Anda mungkin akan langsung menaruh stigma kurang baik ihwal kesetiaan dalam pekerjaan. Stereotip kutu loncat, oportunis, job hopper atau apa pun itu yang menunjukan ketikdasetiaan dalam suatu pekerjaan, tampaknya sudah kadung jadi reputasi tersendiri bagi millennials.

Tahun 2016, The Deloitte melakukan survey terhadap 7.700 millennial dari 29 negara (salah satunya Indonesia) tentang kesetiaannya terhadap perusahaan. Hasil temuannya dapat membuat para pegiat bisnis dan tim HRD waswas. Sebanyak 66% millennials mengatakan tidak menginginkan bertahan lama di perusahaan tempatnya. Artinya, lebih dari setengah para karyawan Anda sudah menyiapkan satu kaki mereka di luar perusahaan.

Namun seperti kata bijak orang tua zaman dahulu bahwa “Tak ada penyakit yang tak ada obatnya”, kita harus tetap mengusahakan agar perusahaan tidak kehilangan potensi hebat dari para millennials. Diilhami dari

 

Kesempatan memimpin pertemuan

Buang jauh pikiran Anda bahwa untuk mendapatkan kesempatan mengambil peran utama dalam sebuah meeting haruslah memikirkan masa jabatan atau senioritas. Berilah kesempatan millennials terlibat dalam tim kecil dan memiliki peran utama dalam sebuah program atau proyek. Setiap benak dari mereka pasti menginginkan perkembangan, dan itu dapat berawal dari atas meja. Pemberian kesempatan dalam menyampaikan ide baru dan dapatkan feedbackdari rekan-rekan kerjanya yang lain dapat meningkatkan rasa terima kasih mereka terhadap perusahaan.

 

Terapkan ide kreatif

Berdayakan milenium untuk tidak hanya berbagi gagasan, tapi juga mendidik orang lain tentang cara-cara yang mungkin untuk mewujudkannya. Di kantor layanan karir saya, misalnya, seorang anggota staf milenium menyarankan dan menyiapkan pembagian layar untuk meninjau riwayat hidup secara online dibandingkan dengan jadwal pertemuan orang-orang.

 

Bekerja dengan mentor

Millennials adalah tipe orang yang tidak malu untuk belajar. Dalam hal ini, mereka akan senang jika dapat menjadikan seseorang sebagai mentor dalam masalah pekerjaan (maupun dalam masalah personal). Bagi perusahaan yang memiliki ahli dalam bidang pekerjaan, komunikasikanlah jika mereka tidak boleh pelit ilmu kepada para millennial. Tindakan tersebut merupakan upaya engaging millennials. Dengan begitu, millennials mendapatkan akses dalam mendapatkan perspektif baru dan umpan balik yang obyektif.

Menurut Laura Aiken, senior account executive di Travelers, hubungan dengan mentor tidak selalu harus formal. “Ketika saya magang di Travelers, saya menghabiskan waktu minum kopi dengan seorang penjamin emisi yang berhasil memberikan panduan yang membantu saya menilai kemampuan saya untuk masuk ke lapangan.”

 

 Jadilah mentor kebalikan

Beri juga kesempatan millennials berperan sebagai mentor bagi atasan. Teknologi adalah contoh yang bagus untuk dijadikan bahan berbagi ilmu. Namun jika yang hanya dijadikan objek mentoring hanya teknologi, lama-lama millennials akan terganggu, apalagi hanya minta diajarkan bagaimana caranya bermain Instagram. Mintalah perspektif mereka tentang beragam gagasan bisnis versinya, termasuk strategi paling tepat untuk meraih perhatian dan mengola millennial.

 

Lakukan percakapan jujur

Mengungkapkan kejujuran mungkin menyakitkan, dan awalnya akan tidak nyaman bagi millennials, tatkala mendengar kritik dan umpan balik dalam iklim komunikasi di perusahaan. Namun lama-kelamaan, millennials tangguh dan ingin belajar akan menangkap kenyataan tersebut sebagai bentuk kepedulian.

Tugas yang perlu Anda selesaikan adalah meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan belajar memotivasi sehingga dapat mendorong para millennials tampil lebih baik dan dianggap lebih serius. Para millennials adalah tipe kaum yang benar-benar dapat menyambut kritik yang konstruktif. Semakin awal mereka mendapatkan umpan balik terkait sepakterjangnya soal pekerjaan, semakin sadar diri mereka dan terbangun. Ini jelas ciri penting dalam sebuah kesuksesan: berani belajar menjadi lebih baik.

 

Pindah ke atas

Para millennials selalu berpikir jauh tentang dirinya dalam sebuah perusahaan. Pada titik mana saya seharusnya pergi jika melihat potensi saya? Millennials adalah kaun ambisius. Bila mereka tidak melihat kerja kerasnya dalam mencapai satu posisi di perusahaan tidak membaik, kemungkinan besar mereka berjalan perlahan keluar pintu perusahaan.

Untuk menyiasatinya, suguhkan program pengembangan kepemimpinan dan pelatihan untuk semua karyawan. Ingat bukan hanya untuk mereka yang “berpotensi tinggi”. Yang ada nanti terjadi kecemburuan. Lagi pula, bukankah masuk akal bagi perusahaan untuk menganggap semua karyawannya sebagai sosok-sosok yang berpotensi tinggi?

Boomer pensiun dan milenium akan terdiri dari 75 persen angkatan kerja pada tahun 2025, jadi kita perlu mencari cara kreatif untuk menjembatani dua generasi. Dan ingat: Jika Anda mengatakan akan melakukan sesuatu, pastikan melakukannya.

another topic.