Suci punya cita-cita tersendiri selepas lulus kuliah di IPB tahun 2015. Namun ia sadar bahwa untuk mewujudkan cita-citanya, ia butuh modal cukup. Sebab idealismenya masih tinggi, ia ingin berdikari. Demi asanya, ia bekerja tidak tetap di sebuah balai semacam dinas kehutanan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tempat yang cukup jauh jika kita melihat daerah asalnya adalah Tangerang.

Rencanaku, selepas kontrak di Bima habis akhir 2017, aku sama temen-temen yang lain punya rencana bikin startup di Jakarta. Pengen banget punya startup. Untungnya, kebetulan adik kuliahnya jurusan IT, bisalah sedikit dimanfaatin. Hehehe,” tutur Suci yang sehari-hari menghabiskan waktu bekerja di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bima.

Suci mengatakan ingin memiliki startup di bidang travel yang ‘main’ di website dan aplikasi smartphone. Dan ketika ditanya startup itu apa, menurut sepemahamannya, startup adalah perusahaan kecil yang bermain di bidang digital. Tapi benarkah demikian? Kali ini, dikutip dari berbagai sumber, Konner akan mencoba membantu kamu semua mengenal istilah startup lebih dalam.

Istilah tersebut memang tidak asing lagi, tapi tidak sedikit juga yang masih asing ketika diminta menjelaskannya. Betul? Daripada lama-lama, mari simak penjelasannya.

Apa itu startup?

Sumber : Pixabay.com
Sumber : Pixabay.com

Di era serba digital saat ini, istilah startup bukan lagi barang asing. Secara harfiah, startup merupakan kata serapan dari bahasa Inggris ‘start-up’, yang berarti sebuah proses atau tindakan untuk memulai sesuatu. Sedangkan dalam Bussiness Dictionary, startup diartikan sebagai tahap awal sebuah perusahaan di mana mereka bergerak dari tahap ide untuk mendapatkan pembiayaan, meletakkan dasar struktur usaha, kemudian memulai usahanya tersebut.

Singkatnya, startup bisa dimaknai sebagai perusahaan rintisan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar baru saja ‘dilahirkan’ dan berada dalam fase pengembangan serta penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.

Awal mula kemunculan startup

Sumber : pixabay.com
Sumber : pixabay.com

Merujuk pada lansiran Maxmanroe, istilah startup bermula pada pada periode akhir 1990an hingga awal 2000an, masa di mana internet sedang berkembang. Saat itu, banyak perusahaan yang memanfaatkan ketersediaan internet untuk membuat situs pribadi guna memperluas usahanya.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, para pelaku bisnis pun mulai melirik internet yang dirasa potensial untuk dijadikan basis ataupun ladang mendirikan usaha. Sejak saat itu, perusahaan yang menggunakan domain (dot)com mulai menjamur, dalam waktu yang bersamaan. Fenomena ini lantas dikenal dengan istilah gelembung dot-com (buble dot-com) yang juga menjadi ujung tombak kepopuleran bisnis startup.

Pada era itu pula, bisnis berbasis internet mengalami perkembangan yang signifikan. Banyak perusahaan yang dimulai dari nol yang dikelola oleh beberapa orang saja, kemudian menjadi besar. Ada pula yang gagal dalam waktu yang cukup singkat. Dari fenomena inilah, startup kemudian selalu diidentikkan dengan perusahaan yang segala aktivitasnya berhubungan dengan teknologi, web dan internet. Padahal, istilah startup sebenarnya juga bisa mengacu pada perusahaan berkembang yang bergerak di bidang lainnya.

Lantas, bisakah istilah startup diasosiaikan dengan pedagang bakso yang baru saja buka warung di pinggir jalan? Hmm, rasanya kurang relevan. Secara tak langsung, startup merujuk kepada perusahaan yang berbasis internet, sesuai dengan kecenderungan yang terjadi dewasa ini.

Karakteristik perusahaan startup

Sumber : Pixabay.com
Sumber : Pixabay.com

Menurut Techinasia, sebuah perusahaan dapat dikategorikan ke dalam startup jika perusahaan tersebut belum lama berdiri atau setidaknya berusia kurang dari 3 tahun. Tak ayal, perusahaan startup kerap disebut ‘bayi yang baru lahir’. Berbeda dengan perusahaan korporasi yang memiliki banyak SDM yang terbagi dalam beberapa divisi, startup menjalankan usahanya dengan jumlah SDM yang lebih sedikit atau kurang dari 20 orang. Bagi perusahaan yang sedang berkembang, jumlah SDM yang sedikit ini justru dinilai efektif dan menghemat dana.

Di samping itu, sebuah startup biasanya memiliki SDM dengan usia yang produktif, dituntut untuk memiliki kemampuan multitasking dan berjiwa muda. Ini terjadi lantaran perusahaan masih dalam tahap berkembang, pendapatan perusahaan startup masih di bawah $100.000/tahun atau jika dikonversi ke Rupiah sekitar 1,3 milyar/tahun.

Produk yang mereka tawarkan pun biasanya berupa aplikasi atau jasa layanan digital dan beroperasi melalui sebuah situs atau website. Inilah yang menjadikan startup sebagai sebuah usaha yang berkembang di bidang teknologi.

Perbedaan startup dengan perusahaan lainnya

Sumber : Pixabay.com
Sumber : Pixabay.com

Steve Blank, seorang entrepreneur dan akademisi ternama, berpendapat mengenai perbedaan startup dengan jenis perusahaan lain. Hal yang pertama terletak pada tujuan awal. Startup biasanya berfokus pada pertumbuhan perusahaan yang signifikan dan berkelanjutan. Oleh karena itu, startup menjadi sebuah perusahaan yang cepat berubah dan sangat fleksibel.

Di sisi lain, startup dibangun atas dasar uji coba model bisnis untuk menggaet pasar baru atau menggebrak pasar yang telah ada di mana punya potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar. Hal ini menjadikan startup sebagai sebuah eksperimen yang jauh lebih berisiko ketimbang perusahaan biasanya.

Perbedaan lainnya adalah terletak pada strategi pertumbuhan perusahaan yang dilakukan. Jika perusahaan non-startup berfokus untuk meningkatkan profit berbekal sebuah visi di jangka pendek, maka startup menggunakan banyak cara untuk meningkatkan pertumbuhan maupun profit perusahaan. Beberapa di antaranya dengan berinvestasi mendapatkan user dan mendapatkan pendapatan dengan beriklan, mengakuisisi user secara alami, dan cara-cara lain yang bisa berubah sesuai dengan kebutuhan.

Potensi pengguna internet di era digital ini tentu menjadi lahan basah bagi pebisnis startup untuk memulai usaha. Hingga saat ini, startup game dan aplikasi informasi dan edukasi serta e-commerce atau perdagangan punya pasar yang potensial di Indonesia. Salah satu conth startup lokal yang kini telah mengalami perkembangan yang cukup menjanjikan adalah Kaskus. Mereka sampai memiliki komunitasnya tersendiri di setiap kota. Pun begitu dengan Hipwee. Perusahaan media yang tiga tahun lalu hanya digawangi beberapa orang tersebut kini sudah memiliki puluhan karyawan dan menjadi sumber informasi terpandang di kalangan anak muda.

Jadi bagaimana, guys? Sudah memiliki rencana memiliki startup sendiri? Jangan sungkang memberitahu kami di kolom komentar ya!