Theodore, seorang penulis yang hidup di masa depan, merasakan kegalauan atas kisah cintanya di masa lalu. Sang istri, yang sangat dicintainya dan tak tinggal bersama lagi, menggugat cerai diri Thodore. Kondisi tersebut tentu menghantui hati Theodore. Dalam lubuk hati paling dalam, ia masih benar-benar mecintai istrinya. Namun di sisi lain, sang istri sudah bulat dengan keputusannya, dan tinggal menunggu surat cerainya ditanda tangani Theodore.

Entah apa yang ada di pikiran Theodore, tapi tokoh yang satu ini benar-benar digambarkan tidak bisa move on. Dalam beberapa kesempatan, adegan-adegan indah di masa lalu bersama istrinya langsung mengintervensi pikiran Theodore. Heran saja, tidakkah terbesit dalam pikiran logisnya bahwa tepuk tangan memerlukan dua telapak tangan?

Di sekitar Theodore, sebuah Operating System (OS) – pada masa tersebut menjadi asisten terbaik manusia – setia dalam mengajaknya berbincang. Mulai dari hal-hal yang serius seperti pekerjaan sampai masalah percintaan, ia ladeni. Tak jarang pula jika OS yang memiliki suara cewek tersebut memberikan saran kepada Theodore. Alih-alih hanya mereduksi rasa galau, sang OS yang merupakan robot tanpa bentuk fisik malah membuat Theodore nyaman. Pun begitu dengan sang OS. Keduanya terlibat kisah percintaan yang tak umum, termasuk bercinta, meski pada akhir kisah mereka berakhir menyakitkan bagi Theodore.

Sebagian besar dari kamu mungkin langsung notice bahwa narasi pada tiga paragraf tersebut merupakan kisah singkat dalam sebuah film. Siapa pun yang berpikir begitu, maka dugaanmu benar. Narasi singkat tersebut memang sepenggal cerita sebuah film hasil garapan Spike Jonze. Akan tetapi, pada kesempatan ini, bukan film lah yang akan dibahas, melainkan kondisi manusia yang makin sini makin sulit dipisahkan dengan gadget. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang mulai berbicara terhadap gadget-nya.

Laporan Daily Mail menyebutkan, jika kamu mendapati diri mulai berbicara atau mengobrol dengan gadget-mu sendiri (sebagai komunikan), maka sudah saatnya kamu berinteraksi dengan manusia yang sesungguhnya. Pada tahap tersebut, ketika kamu telah memanusiakan benda mati, dan bisa dibilang tingkat rasa kesepianmu sudah berada pada titik bahaya. Dalam istilah sastra, memanusiakan obyek seperti benda mati disebut sebagai antropomorfisme.

Di Jepang, jumlah orang yang hidup sendiri meningkat setiap tahunnya. Itulah yang membuat Toyota belum lama ini mengembangkan teknologi “pemerang” kesepian. Mereka menciptakan robot mini, bernama Kirobo Mini, agar bisa diajak bicara dan koneksi sosialnya terjaga. Robot tersebut dapat mendeteksi emosi seseorang dari mimik wajahnya.

Dalam praktiknya, ketika seorang wanita mengoperasikan robot tersebut dan memasang wajah senyum senang. Kirobo Mini langsung merespon dan berkata, “Ngomong-ngomong, kamu terlihat bahagian dan gembira. Kejadian bahagia apa yang baru saja terjadi?”. Berbeda ketika seorang wanita memperlihatkan wajah sedih. Kirobo Mini langsung berkata, “Oh tidak, apa yang telah terjadi?”.

analis yang dilakukan Dr Jennifer Bartz, seorang peneliti di McGill Universiy, menunjukkan, kecemasan terhadap rasa kesepian timbul karena ketergantungannya terhadap gadget. Mereka menomorduakan interaksi sosial yang sesungguhnya, dan menomorsatukan interaksi apa pun yang berasal dari gadget-nya. Sehingga ketika dirundung masalah, mereka mengantropomorfiskan gadget-nya.

Oleh karena itu, kata Dr Bartz, ketika kamu mulai sering berbicara dengan benda-benda di sekitar ketika sendirian, utamanya dalam hal ini adalah gadget, maka sudah saatnya kamu menyambung kembali hubungan sosialmu dengan orang-orang. “Masalah ini menunjukan betapa pentingnya terhubung secara sosial dengan orang-orang terdekat. Maka dari itu, penting sekali untuk ‘menyambung kembali’ hubungan yang sempat terputus,” tutur Dr Bartz.

Banyak dari kita, pada momen-momen tertentu, akan mengalami perasaan kesepian. Namun bukan berarti orang-orang di sekitarmu tidak ingin melakukan interaksi sosial denganmu. Bisa jadi perasaanmu tersebut timbul lantaran kamu menemukan gadget-mu sepi notifikasi atau kamu tidak menemukan sesuatu yang seru pada saat kamu bermain gadget. Dr Bartz berkata, “Meskipun antropomorfisme merupakan salah satu cara yang kreatif (dalam beberapa hal), tapi tetap saja tidak sehat memiliki hubungan dengan benda mati.”

Beda dengan Bicara Sendiri

Berbicara dengan diri sendiri jelas berbeda dengan berbicara dengan gadget sendiri. Kerapkali orang yang sering bicara sendiri dinilai sebagai orang yang gila. Padahal kebiasaan tersebut malah kebiasaan yang baik, dan mampun mendorongmu mencapai tujuan. Seperti dijelaskan dalam sebuah jurnal Quarterly Journal of Experimental Psychology garapan Daniel Swigley dan Gary Lupya, berbicara dengan diri sendiri akan membuat otak seseorang bekerja lebih efektif.

Dalam sebuah riset yang dilakukan kedua peneliti tersebut, sebanyak 20 responden ditugaskan untuk mencari benda di supermarket. Hal yang ditemukan mereka adalah orang yang memiliki kebiasaan bicara pada dirinya sendiri mampu menemukan benda lebih cepat.

Jadi berbeda, ya, kebiasaan berbicara dengan diri sendiri dengan berbicara pada gadget sendiri. Kalau tiba-tiba kamu berbicara dengan gadget sendiri, segeralah cari orang terdekat untuk membicarakan hal apa pun, walaupun ngalorngidul.