Sejak pindah ke Jakarta tahun 2015, Anton Ardi sudah memiliki pengalaman bekerja di tiga perusahaan; Ogilvy & Mather Indonesia, Mandiri dan Yes 24 Indonesia. Dari tiga perusahaan tersebut, kata Anton, hanya Mandiri yang terbilang kaku: wajib berkemeja bisnis, bukan bercelana jeans, dan jam kerja yang lebih pagi. Namun soal kondisi fisik kantor, terutama meja kerja, Anton mengatakan, Mandiri tak berbeda dengan Ogilvy & Mather Yes dan Yes 24 Indonesia. Mereka bekerja dengan keadaan kantor yang tanpa sekat. Hampir semua pekerja dalam satu divisi, bahkan satu perusahaan startup, berbaur.

Pemandangan tersebut kini menjadi hal yang lumrah. Perusahaan beranggapan kantor dengan meja terbuka dapat mendorong banyak interaksi, kolaborasi, sehingga pekerjaan dapat terselesaikan. Sebut saja Go-Jek, Hipwee, Matahari Mall, Mindshare dan Lazada. Mereka adalah perusahaan dengan kantor yang “terbuka”, atau dalam istilah asing tenar dengan sebutan: open workspace.

Perkembangan konsep kantor yang kreatif memang bukan hal baru. Dikutip dari Washington Post, Google dan perusahaan-perusahaan di komplek Silicon Valley, California, AS, sudah jauh hari menciptakan kantor kreatif dan open workspace. Kantor-kantor di Silicon Valley itulah yang kemudian jadi percontohan banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam mendesain bentuk kantor.

Setiap tembok dan sudut kantor didesain kreatif: berwarna ceria, interior ciamik, dan properti-properti apik, demi mengejawantahkan diri sebagai kantor modern. Dampaknya, banyak Millennials dan mungkin juga Gen Z (yang rata-rata kini sudah SMA) dibuat bermimpi bisa bekerja di kantor seperti itu. Namun bagi Anton, yang juga pernah kerja di Kompas Surabaya, open workspace kerapkali mengganggu produktivitas.

“Kalau kerjaan mau cepet beres, ya, kantor seperti itu (open workspace) nggak cocok. Memang bersosial sih tapi kalau keseringan berinteraksi, dan kerjaan belum beres, nanti malah bisa bikin lembur. Justru itu yang mengurangi waktu bersosial kita,” kata Anton.

Menurut Anton, open workspace memang akan sangat bermanfaat, seperti mengetahui selow atau tidaknya kondisi rekan kerja lain, dan kemudian bila dia sedang santai, kita bisa menghampirinya untuk menyapa atau mengobrolkan sesuatu. Sialnya, kata Anton, ketika dia benar-benar sedang serius dengan pekerjaannya, setiap pergerakan karyawan-karyawan lain yang tertangkap oleh kedua mata justru mengikis konsentrasi dan mengganggu pikiran. “Walaupun hanya tertangkap sudut mata, tetap saja distraksi,” tambah Anton.

Sementara kebisingan selalu identik dengan suara, sebuah penelitian yang dilaporkan The Wall Street Journal justru mengatakan keadaan tersebut dengan kebisingan visual, atau visual-noise. Keadaan tersebutlah yang dialami Anton (dan bisa jadi termasuk kamu yang mudah terganggu oleh hal-hal yang tertangkap pandangan matanya).

Dikepung oleh rekan kerja dengan pola dan beban kerja yang serupa, mungkin, bisa membuat nyaman. Namun, Sabine Kastner, seorang profesor ilmu saraf dan psikologi Princeton University, mengatakan, setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam menyaring rangsangan visual. “Bagi beberapa orang, kantor yang sesak atau berantakan hampir tidak memungkinkan seseorang bekerja penuh konsentrasi,” kata pria yang sudah mempelajari bagaimana otak bekerja terhadap rangsangan visual selama 20 tahun tersebut.

Berbeda dengan Kastner, psikolog bernama Sally Augustin mengatakan tentang pikiran seseorang yang mencoba menebak-nebak apa yang sedang terjadi ketika menangkap peristiwa di depannya. “Bila kita melihat sekelompok orang berkumpul, kita akan bertanya-tanya, ‘Apa yang mereka bicarakan? Apakah ada yang dipecat? Apakah mereka datang untuk memecat saya?’”kata Sally, seorang psikolog di konsultan La Grange Park, Illinois.

Dalam sebuah eksperimen yang diterbitkan tahun 2012, Ethan Bernstein dari Harvard Business School menemukan: para pekerja di salah satu perusahaan Tiongkok merasa lebih produktif sampai 15% ketika bekerja di balik tirai, yang melindungi mereka dari pandangan supervisor. “Karyawan merasa lebih bebas bereksperimen dalam mencari cara untuk memecahkan masalah dan meningkatkan efisiensi,” kata Dr. Bernstein.

Selain Anton, ketidaknyamanan akan open workspace pun mulai dialami Disfira Ika. Perempuan yang bekerja sebagai editor di Hipwee tersebut mulai bosan dengan kondisi membaur ketika bekerja. Ia mengaku sudah mulai menginginkan meja bersekat di kantornya setelah satu setengah tahun bekerja di Hipwee. “Sebenarnya orang-orang yang di depanku baik-baik aja dan nggak annoying sih nggak masalah. Terus kebetulan sekarang lagi ingin banget punya meja kerja bersekat. Pengen rasanya punya meja sendiri, punya galeri kecil sendiri,” kata perempuan yang akrab dipanggil Fira tersebut.

“Pokoknya kalau udah bicara soal produktivitas, distraksi karena ruang kerja atau meja nggak bersekat itu wajar. Contohnya tiba-tiba ada yang ngajak ngobrol pas kita lagi serius itu… rasanya gimana ya. Kasian tipe orang yang susah ngumpulin mood-nya lagi. Kerjaan ketunda,” tambahnya.

Konsep meja bersekat, kata Fira, dengan tambahan sebuah ruangan bebas tanpa sekat, dapat dikatakan sebagai kantor yang mengesankan. “Kombinasi itu bakal keren. Jadi ketika kita bosen bekerja dengan suasana meja sendiri, kita bisa pindah di ruangan yang membebaskan orang berbaur… tapi tetep kerja ya,” imbuhnya setengah bercanda.

Siapa pun yang menemukan konsep meja kerja tanpa bilik ini jelas orang penting dalam dunia kekinian. Namun sayangnya, bisa jadi dia tidak melihat dampak buruk yang dihasilkan saat ini. Di sisi lain, penggunaan kantor tak bersekat, kalau kita suudzan, bisa jadi hanya sebuah upaya perusahaan untuk meminimalisir biaya modal – entah itu untuk membangun dinding, tembok, pintu atau mebel untuk menciptakan sekat antar meja – tanpa memikirkan bagaimana keadaan tersebut dapat memengaruhi produktivitas pekerja.