Bagi Anda pegiat bisnis, tatkala mendengar kata millennial, dalam benak Anda mungkin akan menaruh stigma kurang baik ihwal kesetiaan mereka dalam pekerjaan. Stereotip kutu loncat, oportunis, job hopper atau apa pun itu yang menunjukan ketikdasetiaan dalam suatu pekerjaan, tampaknya kadung menempel pada generasi millennials.

Tahun 2016, misalnya. The Deloitte melakukan survey terhadap 7.700 millennial dari 29 negara (salah satunya Indonesia) tentang kesetiaan millennial terhadap perusahaan. Hasilnya dapat membuat para pegiat bisnis dan tim HRD waswas. Sebanyak 66% millennials mengatakan tidak menginginkan bertahan lama di perusahaan tempatnya. Artinya, lebih dari setengah para karyawan Anda sudah menyiapkan satu kaki mereka di luar perusahaan. Namun seperti kalimat bijak zaman dahulu yang berbunyi, “Tak ada penyakit yang tak ada obatnya”, kita harus tetap mengusahakan agar perusahaan tidak kehilangan potensi hebat millennials. Diilhami dari sebuah tulisan Susan Brennan, wakil presiden direktur layanan karir di Bentley University, berikut langkah-langkah konkret yang dapat Anda pertimbangkan untuk meng-engage millennial di perusahaan…

Mengizinkannya Memimpin Tim (minimal pada momen meeting)

Sumber : unsplash.com
Sumber : unsplash.com

Millennials sangat membenci senioritas. Oleh karena itu, buang jauh pikiran Anda bahwa untuk mendapatkan kesempatan mengambil peran utama dalam sebuah meeting, Anda harus mempertimbangkan lama pengabdian seseorang terlebih dahulu. Berilah kesempatan millennial terlibat dalam tim, serta suguhkan peran utama pada sebuah program atau proyek pekerjaan. Dalam benaknya, mereka pasti menginginkan diri berkembang.

Pemberian kesempatan tersebut berarti juga hadiah bagi mereka untuk lebih leluasa menyampaikan ide baru, mendapatkan feedback dari rekan-rekan kerjanya yang lain, dan membuat keputusan. Pastikan tidak hanya satu atau dua orang millennial saja yang memiliki kesempatan tersebut, dan yakinlah taktik ini dapat meningkatkan rasa kepemilikian dan rasa terima kasih mereka terhadap perusahaan.

Wujudkan Ide Kreatifnya

Sumber : unsplash.com
Sumber : unsplash.com

Ide-ide kreatif kerap kali terlontar dari para millennial. Sayangnya, ide tersebut selalu berhenti pada titik approval atasan. Sebagai atasan mungkin Anda akan mengatakan ide-ide tersebut terlalu gila dan bisa mengikis budget operasional perusahaan. Namun tidak ada salahnya juga jika Anda mewujudkan salah satu atau dua ide dari mereka yang Anda anggap paling bermanfaat ke depannya.

Misalkan, salah satu millennial di kantor Anda menyarankan agar mengadakan kegiatan bonding bulanan. Mengapa tidak Anda kabulkan? Jika dikaji ulang, selain dapat mengakrabkan hubungan antar internal, rasa kepemilikan karyawan pun bisa dapat menguat atas kegiatan internal relations tersebut di perusahaan.

“Sediakan” Mentor

Sumber : unsplash.com
Sumber : unsplash.com

Millennials adalah tipe orang yang tidak malu belajar. Dalam hal ini, mereka akan senang jika dapat menjadikan seseorang sebagai mentor dalam masalah pekerjaan (maupun dalam masalah personal). Bagi perusahaan yang memiliki ahli dalam bidang pekerjaan, komunikasikanlah pada mereka agat tidak pelit ilmu kepada para millennial. Tindakan tersebut merupakan upaya engaging millennials. Lewat mentornya, millennials mendapatkan akses untuk mendapatkan perspektif baru dan umpan balik yang obyektif. Sebagai pengingat, hubungan dengan mentor tidaklah harus selalu formal.

Sebaliknya, Beri Juga Kesempatan Mereka Jadi Mentor

Sumber: unsplash.com
Sumber: unsplash.com

Beri juga kesempatan millennials berperan sebagai mentor bagi atasannya atau para anak magang. Teknologi adalah contoh yang bagus untuk dijadikan bahan berbagi ilmu pada atasan yang gagap teknologi. Namun jika yang hanya dijadikan objek mentoring masalah teknologi, lama-lama millennials akan terganggu, apalagi hanya minta diajarkan bagaimana caranya bermain media sosial, seperti Twitter, Instagram atau bahkan Path. Instruksikan pada rekan sejawat Anda untuk meminta perspektif millennial tentang gagasan bisnis versinya, termasuk strategi paling tepat untuk meraih perhatian dan mengola generasi millennial.

Ciptakan Iklim Komunikasi yang Jujur

Sumber: unsplash.com
Sumber: unsplash.com

Tatkala mendengar kritik dan umpan balik dalam iklim komunikasi di perusahaan, mengungkapkan kejujuran mungkin menyakitkan dan tidak nyaman bagi millennials. Tapi, itu biasanya hanya di awal saja. Lama-kelamaan, millennials yang tangguh dan ingin belajar, pasti akan menangkap kenyataan tersebut sebagai bentuk kepedulian.

Tugas yang perlu Anda selesaikan adalah meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan belajar memotivasi sehingga dapat mendorong para millennials tampil lebih baik dan dianggap lebih serius. Para millennials adalah tipe generasi yang dapat menyambut kritik yang konstruktif. Semakin awal mereka mendapatkan umpan balik terkait sepakterjangnya soal pekerjaan, semakin sadar diri mereka dan “terbangun”. Ini merupakan ciri penting dalam sebuah watak orang sukses: berani belajar menjadi lebih baik.

Suguhkan Kesempatan Pengembangan Diri dan Posisi

Sumber: unsplash.com
Sumber: unsplash.com

Para millennials selalu berpikir jauh tentang dirinya dalam sebuah perusahaan. “Jika melihat potensi saya, pada posisi mana saya seharusnya berada?” Begitulah kira-kira yang ada dalam benaknya. Millennials adalah kaum ambisius. Bila mereka tidak melihat kerja kerasnya di perusahaan tidak menghasilkan, kemungkinan mereka berjalan perlahan menuju pintu keluar perusahaan pun semakin besar.

Untuk menyiasatinya, suguhkan program pengembangan kepemimpinan dan pelatihan untuk semua karyawan. Ingat bukan hanya untuk mereka yang “berpotensi tinggi”. Yang ada nanti justru terjadi kecemburuan sosial. Lagi pula, bukankah masuk akal bagi perusahaan untuk menganggap semua karyawannya sebagai sosok-sosok yang berpotensi?

Bagaimana pun, generasi boomer sebentar lagi akan menghadapi masa pensiun, generasi X menggantikan peran boomer, dan millennal akan menguasai 75 persen angkatan kerja produktif pada beberapa tahun ke depan. Sebagai upaya kaderisasi, Anda perlu mencari cara kreatif untuk menjembatani mereka. Bukankah lebih baik menjaga orang yang berpotensi dalam perusahaan ketimbang mendatangkan orang yang memang sama-sama berpotensi tapi belum kenal kbaik tentang perusahaan Anda?

Jadi, jika Anda tidak bisa mengatur dan memberikan 6 langkah konkret nan sederhana itu kepada karyawan Anda, mungkin permasalahannya ada pada diri Anda. Anda sendiri yang tahu jawabannya.